Thread ini dibuat untuk mengumpulkan pengalaman pribadi langsung dari pengguna kartu kredit di Indonesia. Tujuannya adalah membantu anggota komunitas lain yang sedang mempertimbangkan kartu tertentu, dengan informasi nyata — bukan dari iklan atau brosur bank.
Silakan bagikan review kamu berdasarkan pengalaman pribadi (bukan cerita orang lain, bukan "katanya influencer A, B, or C"), dengan format berikut yg bisa di copy-paste:
🏦 Nama Bank:
🏦 Nama Kartu:
📆 Lama Penggunaan:
🛠️ Cara Dapat Kartu: (Apply online, ditawari via telepon, datang ke bank langsung, pre-approved, dsb)
📋 Proses Pengajuan & Approval: (Kasih gambaran semudah/sesulit apa dapat kartunya. Seperti apa situasi keuangan waktu apply? Berapa lama? Diminta dokumen apa? Di-approve langsung atau sempat ditolak?)
💸 Biaya: (Biaya tahunan? Biaya bulanan? Any hidden fee?)
🙋♂️ Pengalaman Minta Pembebasan Annual Fee: (Berhasil atau tidak? Harus belanja minimum? Harus telpon CS? Tolong hanya memasukan first-hand information / pengalaman pribadi ya)
✅ Kelebihan:
❌ Kekurangan:
💡 Tips / Hal yang Perlu Diperhatikan:
🧭 Rencana Kedepan:
📝 Kesimpulan / Verdict: (Misal: lanjut pakai, mau tutup, mau upgrade/downgrade, layak buat siapa, dipakai utk apa dll, skor pribadi, dsb)
🌐 Website produk: Halaman produk utk yang mau pelajari lebih lanjut
Supaya lebih rapi, tolong ikutin format tsb:
Satu kartu kredit = satu komentar utama (top-level comment).
Menanyakan sesuatu tentang kartu tersebut → balas komentar utama.
Menambahkan review pribadi untuk kartu yang sudah disebutkan → balas komentar utama dengan pengalamanmu sendiri (jangan buat komentar baru).
Jika ingin review kartu yang belum ada, silakan buat komentar utama baru.
saat ini cicilan kpr gue 3,3jt bunga 6,99% fix rate dan nanti tahun ke-5 bakal mulai floating. my bad gue dulu ga terlalu melek finansial pada saat ambil kpr, mikirnya cuma biar duitnya jadi aset aja. jujur pas liat postingan ini gue jadi takut kalo nanti pas masuk floating cicilannya bisa naik 2x lipat.
kalo gue coba simulasiin di website simulasikredit(dot)com dgn bunga 13,5% jatuhnya sih sekitar 4,4jt di tahun ke-5. agak nyesss juga kalo naiknya jadi segitu. yang gue takutin lagi kalo nominal itu bakal terus bertambah karena masih ada 10 tahun lagi kpr-nya dan takutnya gaji gue juga stuck di tempat😭
anyway, yang mau gue tanyain adalah:
apakah worth buat take over kpr ke bank lain? adakah yang punya pengalaman take over kpr di bank syariah atau bank lain dengan bunga lebih oke? mungkin bisa share sedikit pengalamannya.
apakah baiknya struggle nabung aja dan percepat pelunasan?
kalo kita ke bank minta nego bunga floating sebenernya bisa ga sih? dan kalo bisa adakah konsekuensinya?
sebagai gambaran saat ini gue belum menikah dan gaji tetap per bulannya around 15jt dan lagi jadi anak rantau.
plis minta saran dan masukannya para senior. terima kasih banyak🙏🙏🙏
beberapa hari ini hari yang paling mengesalkan hidup gw.
satu tahun lalu baru aja renovasi atap rumah. banyak hal mengesalkan yang terjadi. hasil dari renovasi rumah tinggi atapnya gak setinggi tiang fiber jadinya kalo di belakang rumah gw ada yang masang wifi. kabelnya lewatin rumah gw. si tukang masang bedebah ini semuanya kurang ajar gak main minta izin, dan narik kabelnya selalu gesekan dengan seng rumah gw buat narik kabel selalu bikin gaduh lama. gak ada yang himbau sampe gw sendiri naik ke atap pas pemasang kabelnya gw potong depan mata mereka. sekarang gak ada lagi yang masang wifi.
nah sekarang sisa masalahnya ada orang lemparin batu. dulu biasanya kecil kecil nah beberapa hari ini rumah saya dilemparin batu besar besar. seng atap saya bocor dan ada beberapa penyok. sayangnya setiap saya keluar rumah. udah tidak ada orang di sekitar. sudah coba tanya tanya orang sekitar siapa pelaku. tapi gak ada yang tahu.
saya mikirin untuk memasang cctv. apakah itu effisien ?
saya gak punya pengetahuan tentang hal beginian. untuk perbaikan seng atap apakah ada cara murah berhubung nantinya walaupun ketangkap bakal ditegur kemungkinan bakal diulangi lagi. liat liat diyutub ada yang pake lakban ada yang cairan apa tuh. man this feel like magic. jadi agak ragu gw bakal bekerja.
disini ada yang udah pernah bikin tabungan valuta asing? lalu ada saran untuk bank lebih baik pake bank apa? ( saya prefer yang ada kantor fisiknya di indo) ato lebih baik di samakan dengan tabungan idr untuk bank nya?
Rumus the 4% rule udah sering dibahas di sub ini. Tapi yang menurut saya masih jarang dibahas: dari posisi kita sekarang, butuh berapa tahun lagi buat benar-benar sampai ke sana?
Post ini terinspirasi dari salah satu artikel FIRE: The Shockingly Simple Math Behind Early Retirement dari Mr. Money Mustache. Ini adalah tabel yang terkenal dari artikel ini yang ngehubungkan saving rate dan berapa lama waktu harus bekerja hingga bebas finansial.
Hubungan antara saving rate dan berapa lama menabung sampai financial freedom.
Dari artikel ini saya mau coba neliti: kebenaran korelasi antara seberapa besar kita nabung (saving rate) dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai bebas finansial? Saya akan coba bagi jadi beberapa section ya.
1. Definisi Financial Freedom
Mestinya kita semua udah familiar lah sama the 4% rule. Intinya: kalau 4% dari aset investasi udah cukup buat nutup biaya hidup setahun, itu artinya kita udah financial freedom, r/FIRE biasa nyebut ini FI number. So, singkatnya:
FI number = 25x dari biaya hidup tahunan kita.
Contohnya:
Biaya hidup 60 juta/tahun, FI number = 1,5 miliar.
Biaya hidup 120 juta/tahun, FI number =3 miliar.
Biaya hidup 300 juta/tahun, FI number = 7,5 miliar.
Semakin sederhana lifestyle, secara teori semakin kecil FI number yang perlu dikejar.
2. Dasar Rumus di Time Value of Money
Nah, saya iseng lagi ngecekin rumus time value of money (TVM). Kebetulan latar belakang saya teknik sipil, dan TVM ini emang di bahas di kuliah Ekonomi Teknik. Ini ada beberapa faktor penting dalam TVM:
F = future value, nilai masa depan dari uang (misalnya: target 25x biaya hidup tadi)
A = annuity, jumlah yang ditabung/diinvestasikan tiap tahun
Ini kalau digambarkan dalam diagram cashflow jadinya seperti di bawah ini.
Tiap tahun kita menabung sejumlah A, dengan bunga i sampai akhirnya jadi F di tahun ke-n:
Rumus future value dari annuity itu adalah:
F = A x [(1 + i)ⁿ - 1] / i
Kalau di excel rumusnya itu tinggal pakai fungsi FV:
=FV(i, n, -A, 0, 0)
(A dikasih tanda minus karena di excel itu dianggap uang yang keluar, agak aneh emang tapi gitu default-nya excel)
Contohnya, balik ke section 1 tadi:
Orang dengan biaya hidup60 juta/tahunpunya FI number1,5 miliar.
Saya coba utak-atik.
Di tabel paling Mr. Money Mustache paling atas, dikatakan kalau saving ratenya 50%, maka n-nya hanya perlu 17 tahun.
Anggap aja orang tadi penghasilannya tadi 120 juta/tahun. Kemudian nabung 60 juta/tahun, itu artinya saving rate 50%.
Jadi dengan return riil 5%/tahun, di tahun ke berapa dia bakal nyampe ke 1,5 miliar itu?
Coba-coba masukin angka n = 17 tahun.
F = A x [(1 + i)ⁿ - 1] / i
FI number = 60 juta x [(1+0,05)¹⁷ - 1] / 0,05 = Rp 1,55 miliar
Pas! (selisihnya dikit, kayaknya karena pembulatan.)
Itu tadi baru untuk satu skenario spesifik. Rumusnya harusnya bisa dipakai buat saving rate berapa pun, bukan cuma yang nabung persis 60 juta/tahun. Sekarang kita bikin lebih umum. Anggap aja penghasilan kita itu 100%, biar gampang dipetakan ke persentase.
Kalau saving rate adalah S, maka:
A = S (yang diinvestasikan)
Biaya hidup tahunan = (1 - S) (sisa penghasilan yang dipakai buat hidup)
Target F = 25 x (1 - S)
Masukkan ke rumus F tadi:
F = A x [(1 + i)ⁿ - 1] / i
25(1 - S) = S x [(1 + i)ⁿ - 1] / i
Susun ulang selangkah demi selangkah. Kalikan kedua sisi dengan i/S:
25i(1 - S)/S = (1 + i)ⁿ - 1
Tambahkan 1 ke kedua sisi:
1 + 25i(1 - S)/S = (1 + i)ⁿ - 1 + 1
Ambil ln dari kedua sisi, lalu bagi dengan ln(1 + i), ketemu n-nya:
n = ln[1 + 25i(1 - S)/S] / ln(1 + i)
Perhatikan, n cuma tergantung dari S (saving rate) dan i (return riil). Gaji absolut nggak masuk rumus sama sekali. Ini kenapa gaji 8 juta atau 80 juta, kalau saving rate-nya sama-sama 50%, waktu menuju FI-nya sama persis.
3. Simulasi: Berapa Tahun untuk Tiap Saving Rate
Pakai asumsi return investasi 8%/tahun dan inflasi 3%/tahun (return riil i = 5%/tahun), berikut hasil hitungannya per tahap:
Saving Rate (S)
Biaya Hidup (1-S)
25(1-S)/S
(1+i)ⁿ
Tahun (n)
10%
90%
225,00
12,25
51
20%
80%
100,00
6,00
37
30%
70%
58,33
3,92
28
40%
60%
37,50
2,88
22
50%
50%
25,00
2,25
17
60%
40%
16,67
1,83
12,5
70%
30%
10,71
1,54
8,5
Semakin banyak uang yang kita tabung, semakin cepat kebebasan kita.
Yang menarik, dampaknya ga linear.
Naik dari 10% ke 30% saja motong waktu hampir separuh (51 turun ke 28 tahun).
Sementara naik dari 50% ke 70% "cuma" motong sekitar 8,5 tahun (17 turun ke 8,5 tahun).
Artinya, usaha paling worth it justru ada di saving rate yang masih rendah.
4. Gimana Cara Menaikkan Saving Rate?
Kalau saving rate kalian sekarang masih di kisaran 10-20%, ada beberapa cara realistis buat naikin:
Dulu saya 2019, full year catat pengeluaran bulanan pakai aplikasi money tracker. Jadi ada gambaran kelihatan pos mana yang sebenarnya bisa dipangkas. Kalau sekarang udah ga tracking lagi, tapi biasanya saya sisihkan belanja sehari-hari ke satu akun bank digital, dan pantau dari mutasi rekening.
Kurangi langganan atau kebiasaan kecil yang totalnya besar (misalnya: kopi Starbucks tiap hari diganti bawa tumbler kopi bubuk dari rumah, ngegrab pas makan siang kadang-kadang coba diganti sama bekal, langganan streaming yang jarang ditonton di-cancel).
Setiap gajian, autodebet ke RDN atau ke rekening yang khusus untuk nabung.
Kombinasikan dengan cari penghasilan tambahan, biar yang ditabung naik tanpa harus makin menahan pengeluaran.
5. Poin yang mau saya sampaikan di post ini:
Saving rate adalah variabel utama menuju financial freedom, bukan besar gaji. Tapi penghematan itu ada batasnya. Di titik tertentu, kombinasi sama usaha naikin penghasilan bisa bantu naikin saving rate lebih jauh.
Titik paling "murah" buat dikejar ada di saving rate rendah ke menengah (10-30%), karena di situ tiap kenaikan persentase ngasih pemangkasan tahun paling besar.
Ini model simplifikasi. Real life ada kenaikan gaji, kenaikan biaya hidup, market volatility, jadi anggap ini panduan aja, bukan kepastian.
Trus poin utamanya, di Mr. Money Mustache, dia pakai return riil 5% per tahun (asumsi investasi 8%, inflasi 3%). Kalau inflasi lebih tinggi, return investasi lebih rendah, maka berubah lagi tabelnya.
Masalahnya, bapak gue yang sudah 71 tahun justru masih punya banyak cita-cita. Pengin usaha ini usaha itu, banyak diantaranya yang butuh modal besar (contohnya bikin freshmart).
Cuma menurut gue kondisi keluarga sekarang sudah berbeda. Kami punya cukup banyak aset, tapi sebagian besar tidak likuid. Jadi secara nominal kelihatan banyak aset (nilai totalnya sekitar 9-10 M, itungannya lumayan buat orang kabupaten, tapi sayangnya ini potensi bukan realita karena banyak yang nyangkut), dan kalau butuh cash dalam waktu dekat, belum tentu gampang dicairkan. Sebenarnya disebut aset juga gak bisa sih, lebih ke liabilitas karena butuh biaya maintenance dan pajak yang terus jalan tanpa memberikan cash flow rutin.
Sementara itu bapak gue masih punya mindset entrepreneur: selama masih bisa membangun sesuatu, kenapa harus berhenti?
Gue justru merasa di usia beliau sekarang prioritasnya mulai perlu bergeser dari wealth creation ke wealth preservation. Bukan berarti harus pensiun total. Kalau mau punya kesibukan, gue malah dukung usaha kecil seperti ternak atau kebun yang modal dan risikonya terbatas.
Masalahnya, kalau beliau mengejar bisnis yang modalnya besar, ujung-ujungnya kemungkinan besar anak-anak juga yang harus ikut turun tangan. Kalau kami menolak, responsnya kadang emosional dan dianggap tidak mendukung.
Beliau juga cukup skeptis dengan produk investasi dan lebih percaya properti fisik. Menurut beliau investasi keuangan itu rumit dan berbahaya. Gue sudah coba menjelaskan bahwa properti juga punya risiko: illiquid, ada maintenance, pajak, dan nyatanya belum tentu bisa dijual saat membutuhkan uang.
Jadi pertanyaan gue:
Gimana cara menggeser mindset entrepreneur senior dari “terus bisnis” menjadi “gimana cara manfaatkan aset yang sudah ada ”, tanpa membuat beliau merasa diremehkan atau kehilangan tujuan hidup?
Apakah kedepannya lebih efektif kalau dibuat semacam “uang eksperimen” jadi bapak tetap boleh mencoba bisnis baru, tetapi ada batas maksimal modal yang boleh dipertaruhkan dan tidak boleh mengambil dana yang seharusnya untuk kebutuhan hidup keluarga?
Sebagai jalan tengah, salah satu warung keluarga (yang di foto postingan sebelumnya) juga kepikiran mau kami tawarkan ke orang lain untuk dikelola. Kami cukup menyediakan lapak, sementara partner yang menjalankan operasional. Di sebelahnya ada rumah tipe 36 yang bisa disewakan kalau ada orang dari luar kota yang mau menjalankan usaha di sana.
Dulu kami pernah bermitra dengan eks chef hotel jualan ayam bakar dan soto Boyolali. Sempat ramai, tapi akhirnya berhenti karena partnernya bermasalah dalam pengelolaan.
Sekarang gue melihat beberapa cafe di sekitar warung lumayan ramai. Jadi mungkin model ini bisa jadi kompromi: bapak tetap merasa menjalankan bisnis, tapi keluarga tidak perlu mengambil risiko sebesar membangun usaha baru dari nol.
Gue juga penasaran, kalau kami akhirnya berhasil mencairkan sebagian aset yang sekarang tidak produktif, sebaiknya dana tersebut dialokasikan seperti apa?
Instrumen apa yang menurut kalian masuk akal untuk kondisi seperti ini? Deposito, SBN, reksa dana pasar uang/pendapatan tetap, atau kombinasi beberapa instrumen?
Prioritas utamanya adalah menjaga nilai pokok (capital preservation) karena ini untuk dana pensiun.
Dan bagaimana cara menjelaskannya kepada orang tua yang sejak dulu lebih percaya properti fisik dan bisnis daripada produk keuangan?
Ada yang pernah menghadapi orang tua dengan situasi serupa? Gimana cara kalian membujuknya?
Kondisi: Kerja remote ke company luar. Semua employee payroll dibayar USD via PayPal.
Nah masuk nih USDnya ke PayPal saya. Eh kalo saya withdraw ke rekening Indonesia, exchange ratenya kena di 17140 IDR (96.60% kurs jual). Padahal kalo menurut Google hari ini kurs jualnya di 17743 IDR.
Akhirnya saya transfer USD di PayPal saya ke PayPal tante saya yang tinggal di US, terus dia withdraw ke account lokal USA milik dia, baru uangnya ditransfer ke rekening IDR saya lewat SendWave, kena di angka 17613 IDR (99.27% kurs jual) hari ini.
Ini juga tau SendWave dari circlenya tante saya, mereka info SendWave yang rate nya paling bagus. Tante saya rutin ngasih bulanan ke nenek saya, jadi saya "nebeng" ceritanya.
Emang jadi ribet. Tapi karena jumlah USD dalam 1x withdrawal cukup besar, jadi secara jumlah uang yang saya terima tetap lebih besar daripada withdraw langsung dari PayPal, walaupun sebenernya kepotong admin beberapa kali.
Cuman saya ga mau ngerepotin tante saya terus. Ada opsi lain ga ya? Kalo saya ngebuka rekening valas USD apa bisa diconnect ke PayPal? Atau gimana sih triknya, karena exchange rate dari PayPal gak banget.
Hi guys, sesuai title, apa di sini ada yang deposit ke IBKR pakai akun dengan nama yang berbeda (i.e. milik keluarga).
Jadi istri gw pake tabungan USD Jenius dan biasa gw langsung trf dr sana ke IBKR, udah beberapa kali dan no issue. Tp bulan ini tiba2 dpt email kalau gak boleh, harus kirim proof of deposit under my name.
Apa gw bisa kirim KK atau akte nikah buat buktiin kalau itu istri gw? Atau the easier solution is just for me to open USD Jenius account and send it to IBKR from my account?
Saya dulu beli emiten ASII karna syariah, sempat menikmati dividennya bertahun2 juga, tapi saya baru sadar disaat sahamnya ambruk begini ternyata sudah tidak masuk syariah lagi, jadi bimbang mau masuk saham lagi kalau begini caranya, apakah ada alternatif lain yang cocok untuk investor jangka panjang seperti saya soalnya saya sudah nyaman dengan sistem buy and hold jadi rasanya ga cocok ke saham kalau bisa tiba2 keluar masuk... Bukan saham juga ngga papa asal tidak kalah dengan inflasi.
Saya sekarang mahasiswa dan lagi cari kerja sampingan/part-time yang bisa dilakukan sambil kuliah(kuliahnya kelas sore/malam). Sebelumnya saya pernah kerja sebagai admin gudang, tapi cukup capek secara fisik dan jam kerjanya juga lumayan menyita waktu.
Kira-kira menurut kalian, pekerjaan apa yang cocok untuk mahasiswa di Indonesia, terutama yang:
Jam kerjanya fleksibel
Tidak terlalu menguras fisik/mental
Bisa dilakukan sambil kuliah
Kalau bisa, bisa menambah pengalaman/skill untuk CV
Penghasilan minimal lumayan untuk tambahan dikit tabungan
Saya kuliah di bidang IT, jadi kalau ada pekerjaan yang berhubungan dengan IT/programming juga boleh banget.
Kalau ada yang punya pengalaman kerja sambil kuliah, jenis pekerjaan apa yang kalian rekomendasikan dan biasanya cari lowongan di mana?
Blessed to have just come through a very difficult period in family, finance, and career, and now I’m starting fresh at 47.
Married with one kid, age 12, and we are a double‑income household with my wife’s career doing very well. Currently work remotely full time get paid in USD, with an annual income at least IDR 600 million.
As stated in my first paragraph; just undergone some family matter that used up a lot of my cash so i have IDR 30 million in the bank at the moment.
My monthly take‑home pay is IDR 51 million, from which I can usually save about IDR 7 million. Huge spending? yes, because am supporting my aging parents. On a good month I can save up to IDR 11/10 MM but this is quite rare.
Got a mortgage of IDR 10.5 million per month that will run for another 10 years.
My target is to retire at 65 (if possible?)
Already started a side project that secured IDR 50 million this year, but would like to have a couple of additional income streams so I can save more to save, invest, etc.
The good news is that business is good, my office allows me to work until around 70ish, and my CEO strongly believes in giving people second chances, so I’m open to working as long as I can as long as I can build and grow proper financial planning.
Have zero knowledge of investing or financial planning, but willing to learn. Willing to pay for good classes (Invest? AI? blockchain? let's go!) Seeking advice and guidance to learn and build a strong plan for my family’s future.
Misalnya lu adalah pemain baru di suatu industri kemudian lu mau jualan sesuatu yg nilainya cukup besar ke satu perusahaan gede yg udah Tbk. Atau lu mau minta tolong ke pejabat tinggi untuk kebutuhan bisnis lu. Tapi lu ga ada koneksi sama sekali ke mereka.
Apa yg harus lu lakuin utk bisa meeting bareng mereka? Gimana cara minta waktu mereka yg sangat limited di tengah kesibukan mereka? Apakah kalian sampai pernah bawa upeti seperti makanan, barang kesukaan dia atau bahkan uang cash?
Non-sandwich generation here, how can a SAHM spend her husband’s entire income?
I have one older sibling. Both of us have been independent for years, I’ve lived abroad and separately from my parents since I was 18. My parents aren’t that old, and Dad still works abroad on a contract basis. I don’t know his current income because we’re simply not a close family and don’t really discuss money. Around 4 years ago, his net income was Rp100–120jt/month, probably more now if not the same (we don’t actually talk).
Mom is a SAHM and hasn’t had dependents to take care of for years.
They have two houses, one normal car, no mortgage/debt, no business, and a very simple middle-class lifestyle. We grew up paying cash and only buying within our means, and my parents still live that way. Nothing lavish. Dad’s living expenses abroad are also fully covered by his company.
Her last message to me was asking for money, and I genuinely cannot understand where the money could be going.
Please don’t say “just ask her”, I will, but we’re not a close family and don’t casually discuss finances. I want some perspective before I approach her with “how are you spending that much?”
For those who’ve seen situations like this, what could realistically account for that level of spending without a luxurious lifestyle? Extended family, medical costs, supporting someone, hidden debt, etc.?
Just trying to understand what I might be missing.
jadi gw punya bisnis digital, nah biasa nya butuh nerima pembayaran entah itu buat payment provider, verifikasi atau apapun itu
sejak Trump perang ma Iran itu, financial service buat negara mayoritas muslim di perketat/batasi
jadi solusi neo bank (bank digital) macam mercuri, relay, airwallex itu kena pembatasan semua
temen2 startup founder yg dari south east asia juga banyak yg kena
bahkan app macam morse itu aja enggak bisa buat virtual US card (padahal based di europe)
btw gw punya LLC di US kok, tapi semua neo bank tetep minta resident verification (passport doank enggak cukup)
nah gw itu pingin cari alternative nya kalo ada yg tau ???
atau gw give up buat akun bank US dan bikin perusahaan sekelas LLC di EU ????
gw juga open to explore buat bikin (LLC equal) di singapore dan hongkong (eastern hemisphere) tapi gw enggak tau itu friendly digital nomad atau enggak
buat temen2 solopreneur, nomad, startup founder bisnis digital bisa sharing2 kalo ada yg tau
Many people invest in local stock because of pph final tax while if u invest in us stock or foreign one you must paid up to 35% pph not final. Nowadays with the development of blockchain and wall street plan to 24h or 23h and adopt tokenized stock last news i see.
You can buy tokenized stocks to escape the pph on relized gain. It count as a crypto trade on offshore exchange so 1% pph final on buy/sell, you can report manualy on spt.
Last the homework here is to find trustable issuer carefuly to avoid/reduce future risk
gw pake rekening jenius yg punya fitur mata uang asing, rencananya duit dari paypal mau gw tarik kesitu biar tetep jadi USD, itung2 buat tabungan selagi kurs naik terus. Soalnya selama ini kalo wd selalu ke rupiah, sayang banget kena konversi.
Mau tanya aplikasi crypto paling aman apa ya? Dulu kan cuman ada Indodax, lalu ada Tokocrypto, lalu terakhir ini denger ada Triv dan apparently ngakunya terbesar di Indonesia? Padahal sama sekali ga pernah denger. Ada saran?